100 Hari Kerja Ahmadi – Antos Dinilai Program Tanpa solusi

Detikbrita.com, Sungaipenuh – Program 100 hari Kabinet maju & berkeadilan Walikota dan Wakil Walikota Drs. Ahmadi Zubir MM – DR. Alvia Santoni SE., MM.  memerlukan kesamaan persepsi publik dengan pemerintah. Hal ini terkait untuk meningkatkan kinerja pemerintahan  Walikota dan Wakil Walikota Sungaipenuh Drs. Ahmadi Zubir MM – DR. Alvia Santoni SE., MM jangka 3 tahun ke depan 18/07/2021.

Kinerja program 100 hari Walikota dan Wakil Walikota Sungaipenuh Drs. Ahmadi Zubir MM – DR. Alvia Santoni SE., MM. merupakan pengkokohan pijakan awal pondasi pelaksanaan pemerintahan 3 tahun ke depan merupakan program pendekatan penyelesaian hambatan dengan output salah satunya adalah koordinasi yang baik.

Dan yang kedua adalah Qucik Wins yang merupakan program-program unggulan dalam rangka akselerasi untuk mencapai sasaran. Selain itu juga dilakukan program pendekatan komunikasi kepada publik. yang saat ini gencar gencar dilakukan oleh Walikota dan Wakil Walikota Sungai penuh Drs. Ahmadi Zubir MM – DR. Alvia Santoni SE., MM dalam upaya pencegahan penangulangan banjir dan pengelolaan sampah.

Namun invistigasi lapangan detikbrita.com, ditemui adanya kejangalan dan menuai protes dari masyarakat dalam program 100 hari kerja Walikota Wakil Walikota Drs. Ahmadi Zubir MM – DR. Alvia Santoni SE., MM dalam penangulangan banjir dan sampah dikota sungai penuh.

Penangulangan banjir dan sampah oleh pemerintahan baru Walikota dan Wakil Walikota sungaipenuh Drs. Ahmadi Zubir MM – DR. Alvia Santoni SE., MM dinilai “Program Tanpa Solusi” yang membuat masyarakat semakin bingung dan tambah susah terutama masalah sampah.

Pemerintahan Walikota Wakil dan Walikota sungaipenuh Drs. Ahmadi Zubir MM – DR. Alvia Santoni SE., MM melarang warga masyarakat kota sungai untuk membuang sampah sembarangan atau tidak pada tempatnya. namun pihak pemerintah tidak memberikan solusi dari larangan tersebut dimana mereka harus membuang sampah?.

Seperti halnya tempat pembuangan sampah tidak seharusnya di kaki bukit sentiong kecamatan sungai bungkal disamping cafe kinara hari ini dibersihkan ternyata besoknya sampah sudah menumpuk lagi.

Begitu pula penanganan bajir yang diprioritaskan di kecamatan hamparan rawang dan kecamatan tanah kampung, dengan menghimbau agar masyarakat kota sungai penuh agar jangan membuang sampah disepanjang sungai, agar sungai tidak meluap. hal ini juga dinilai hanya memberatkan dan membebani masyarakat kota sungai penuh, sedangkan sampah juga berasal dari daerah tetangga yaitu daerah kabupaten kerinci, serta kemanakah masyarakat harus membuang sampah?.

Juga ditinjau dari kegiatan program 100 hari kerja Walikota dan Wakil Walikota sungaipenuh Drs. Ahmadi Zubir MM – DR. Alvia Santoni SE., MM. dengan mengerahkan personil dan peralatan yang ada disinyalir anggaran yang digunakan juga patut ditelusuri sumbernya, dikarenakan anggaran peruntukan diluar APBD tentu tidak tersedia di OPD terkait?.

Pihak dinas atau OPD terkait belum bisa dijumpai, untuk dikonpirmasikan sepanjang sumber dana kegiatan program 100 hari kerja pemerintah Maju & Berkeadilan Walikota dan Wakil Walikota sungaipenuh Drs. Ahmadi Zubir MM – DR. Alvia Santoni SE., MM.

Saat ini masyarakat keluhkan kinerja program 100 hari pemerintahan Maju & Berkeadilan Walikota Wakil Walikota sungaipenuh Drs. Ahmadi Zubir MM – DR. Alvia Santoni SE., MM. saat warga membuang sampah ditempat yang telah dibersihkan oleh pemkot sungai penuh dalam program 100 hari kerja di kaki bukit sentiong kecamatan sungai bungkal.

“Bagaimana kami mau mengikuti perintah walikota, walikota hanya bisa menerapkan program dan larangan serta memberikan himbauan, kami butuh solusi dari larangan membuang sampah disini” protes dan keluh warga.

Seharusnya pemkot kota sungai penuh melarang masyarakat untuk membuang sampah sembarangan dan tidak pada tempat seharusnya. tentu juga harus memberikan solusi kepada masyarakat kota sungaipenuh, seperti halnya menyediakan tempat tempat pembuangan sampah atau limbah rumah tangga di setiap rumah atau memberdayakan petugas kebersihan di tiap desa dengan mengalakkan motor roda tiga viar untuk mengangkut sampah atau limbah rumah tangga disetiap desa serta memikirkan dimana Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, hingga tidak menuai protes lagi dari masyarakat kumun debai dan segitarnya.  (r)

Leave a Reply

Your email address will not be published.